Startup Logistik Thailand Berkembang Pesat. Apa Rahasianya?

Thailand boleh dikata rajanya startup logistik Asia Tenggara. Di Indonesia saja, beberapa perusahaan logistik asal Negeri Gajah Putih ini mulai menancapkan kukunya meski baru seumur jagung.

Ambil contoh Deliveree. Startup ini masuk ke Indonesia pada September 2015, tak lama setelah resmi beroperasi di Bangkok pada Maret tahun yang sama.

Tak lama kemudian aCommerce ikut masuk. Hanya dalam kurun waktu satu tahun saja Indonesia langsung menjadi wilayah operasi regional terbesar aCommerce melewati pertumbuhan di Thailand yang notabene negara asalnya. Itu belum termasuk nama-nama lain yang sudah punya pasar besar di negerinya sendiri. Sebut saja Giztix dan Skootar. Dikutip dari Bangkok Post, Giztix, Skootar dan aCommerce bahkan masuk dalam jajaran 10 besar startup terbaik Thailand.

Ada sejumlah faktor yang membuat startup logistik disana berkembang pesat. Pertama adalah posisi geografis yang ideal. Ketua Umum Asean Federation Forwarders Associations (AFFA) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, pelaku industri logistik disana diuntungkan karena berbatasan dengan Vietnam, Laos, Kamboja dan Myanmar.

Kedua, regulasi pemerintah Thailand amat bersahabat bagi usaha rintisan. Salah satunya adalah regulasi yang memudahkan untuk kegiatan ekspor-impor yang didukung dengan pengawasan yang baik. Dukungan pemerintah tersebut menjadikan iklim usaha disana kondusif dan membuat startup logistik negara tersebut percaya diri untuk berekspansi.

"Mereka bahkan ingin menjadi hub untuk produk-produk halal, bersaing dengan Malaysia. Padahal [populasi] muslim terbesar ada di Indonesia," kata Yukki kepada Bisnis, Selasa (11/7/2017).

Pemerintah setempat juga rutin menggelar event dan kompetisi startup untuk mencari bibit-bibit baru. Contohnya adalah Startup Thailand 2017 Scale up Asia yang dihelat Juli ini. Event ini digagas oleh Kementerian Sains dan Teknologi Thailand.

Ketiga, pendanaan yang berlimpah. Tahun lalu, Asosiasi Modal Ventura Thailand menyuntik dana usaha sebesar USD570 juta. Tahun ini, CVC Capital Partners Thailand berencana memberikan dana investasi untuk startup senilai USD250 juta. Selain itu, berdasarkan data Tech in Asia, nilai median dari kesepakatan pendanaan di ekosistem startup Thailand terus meningkat dari USD60.000 pada 2012 menjadi USD1,1 juta pada 2016.

Jika diurutkan berdasarkan sektor usaha, startup logistik dan transportasi di negara monarki tersebut menduduki peringkat 4 dalam perolehan pendanaan sepanjang 2016. Hanya kalah dari sektor e-commerce, food tech dan fintech.

Contoh nyata betapa besarnya pengaruh modal dalam ekspansi bisnis startup adalah Deliveree dan aCommerce. Saat masuk ke Indonesia, Deliveree disokong oleh dua investor besar yakni Inspire Ventures dan Ardent Capital. Deliveree mendapat kucuran dana sebanyak $2 juta atau sekitar Rp26 miliar.

Demikian pula dengan aCommerce. Mereka berhasil mendapatkan dana dari salah satu putaran pendanaan seri A terbesar di Asia Tenggara dan mampu meraih value sebesar $24 miliar pada 2015.

Tahun lalu, mereka lagi-lagi meraup dana seri B senilai $10 juta. Gelontoran dana tersebut menjadikan aCommerce sebagai startup logistik dengan pendanaan terbesar di Asia Tenggara. Wajar jika kemudian mereka mampu menggaet mitra retail raksasa seperti MatahariMall, PT Mitra Adiperkasa (MAP) dan L’Oreal.

Geliat startup negeri jiran tersebut seharusnya menjadi perhatian pemerintah dan pelaku industri logistik Tanah Air. Apalagi Indonesia disebut-sebut sebagai pasar terbesar e-commerce Asia Tenggara.

Bak dua sisi mata uang, e-commerce dan logistik adalah dua industri yang tak bisa dipisahkan. Namun bila diam saja, kelak Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi perusahaan logistik asing.



(Sumber: Bisnis Indonesia)